Saturday, February 25, 2012

Sebenarnya Mau Ibu Apa?

Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja... Setelah dimarahi, eh! Dia sudah tidak baca komik, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh... masakan...”

”Jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraannya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya kesal karena saya bertanya demikian.

“Dirimu sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.

“Aku benci kehamilanku yang pertama...” Sahut ibu itu sambil tertunduk. Oh! Ternyata, ada masa lalu yang harus didamaikan, kata hati kecil saya. Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban kelabilan orangtua. Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masa lalunya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kelabilan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Catatan Ibu

Sejak kerap berbicara lama di telepon, kutahu seorang gadis telah merebut hatimu. Kue kesukaanmu yang kubuatkan untukmu kini tak banyak kaumakan.

Berat kini hatimu menemaniku pergi berbelanja, tak lagi seperti dulu saat kuajak pergi kau melompat kegirangan dan berceloteh sepanjang jalan.

Ada saja alasanmu menolak ajakanku pergi. Mulai terasa sepi pula bepergian sendiri tanpamu, sayang.

Ketika kulewati toko-toko mainan itu, kuingat dulu kau selalu membuatku berhenti dan membelikanmu sebuah mainan; senapan, mobil-mobilan, kapal-kapalan.

Tapi kini aku tak harus lagi berhenti di sana, karena kau bukan lagi seorang bocah yang mudah disenangkan hatinya dengan mainan-mainan itu.

Saat kecilmu, kau selalu menarik tanganku ke tempat tidurmu meminta aku membacakan buku-buku kesayanganmu;  walau kuterkantuk, kubacakan untukmu.

Kini... bahkan saat kumelihatmu dari luar, kau segera menutup kamarmu tak ingin bicara denganku. Telah ada hal-hal pribadimu yang kini harus kuhormati.

Saat ingin kuajak kau bicara, tentang hal sekolahmu atau kegiatanmu sehari-hari, kau menjawabnya setengah hati. Namun jika teleponmu berbunyi?

Wajahmu berubah riang. Dari seorang yang tampak tak punya kata-kata untuk berbicara denganku, tiba-tiba kau begitu fasihnya berbicara dengan gadis pujaanmu.

Aku tidak sedang cemburu, sayang. Aku pun pernah muda dan jatuh cinta. Aku hanya rindu masa-masa di mana kau begitu dekat denganku.

Masa-masa itu, sering kau buat aku bingung dengan teriakan-teriakanmu, berlarian ke sana kemari. Masa itu aku pernah menginginkan kau segera saja jadi dewasa.

Saat ini... aku sungguh rindu bocah kecilku yang aktif  bermain, yang  setelah kelelahan dan masih berkeringat kau sandarkan kepalamu padaku dan tertidur.

Anakku sayang sudah beranjak dewasa kini. Ibu tak bisa terlalu mendekat lagi dan kau pun tak ingin terlalu mendekatku lagi. Tidak mengapa...

Aku bersyukur pada TUHAN untuk hari-hari yang kulewati denganmu, kau adalah anugerah-NYA yang terindah. Ingatlah sayang, saat kesulitan, ibu ada di sini untukmu.

Tak mungkin ibu kan selalu dapat mendampingimu dari dekat;  untuk itulah, setiap hari, tak putus kusebutkan namamu di dalam doaku.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

Ikuti sekilas parenting kami di youtube: http://youtu.be/DB_ewJfxGzg


Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Catatan ayah...

Twitter keluarga 24, 25 November 2011

24 November 2011

Hari ini ingin kuberikan catatan-catatan seorang ayah yg indah namun mengharukan.

Ketika anak perempuanku akan melanjutkan study-nya jauh dari kotaku, hatiku gelisah, tp mengingat masa depannya; kurelakan ia pergi.

Wajahnya antusias, matanya ber-binar2.. Seandainya ia tahu, berat sungguh hatiku melepasnya. Ia memeluk & menciumku, ucap salam perpisahan.

Kupandangi ia beranjak pergi.. Ia bukan lg si mungil yg belepotan saat makan es krim yg meminta aku menyeka mulutnya..

Ia bukan lagi si mungil dulu yg menengadahkan kedua tangannya meminta aku menggendongnya krn ia sdh lelah berjalan..

Ia tidak lagi menungguku pulang sampai terkantuk utk membantunya membuat PR Matematika...

Ia tidak lagi menemaniku memancing, yg menangis melihat ikan pancinganku menggelepar & memaksaku pulang..

Ia tidak lagi membuatku mencoba masakan pertamanya, yg rasanya membingungkan namun tetap kupuji hingga ia memberiku sepiring lg.

Ketika ia memberitahukan nilai rapot & ijazahnya yg bertaburkan angka 9 itu, bangga sekaligus sedih mendera. Kutahu apa yg akan dimintanya.

Yaitu ijin melanjutkan study-nya di kota itu. Oh, putri cantikku, andai kautahu betapa besar khawatirku, betapa tdk ingin aku mengijinkan..

Dan betapa besar rasa rinduku kelak tanpa hadirmu.. Tapi, ini bukan ttg aku, ini ttg engkau menjadi wanita mandiri. Berat hati kuijinkan..

Pergilah, putri cantikku, gapailah cita2mu. Dan ENGKAU yg kuasa, jagalah putri cantikku senantiasa, luruskan & mudahkan jalannya.

Aku yg tak rajin bertelut & penuh logika ini.. tak berdaya & hanya mampu memohon padaMU. Jagalah putriku, kumohon, jagalah ia, TUHAN.


25 November 2011

Hari ini putri cantikku siap menempuh hidup barunya dgn seorang pria pilihannya. Ia memegang tanganku gelisah.

'Ayah, apakah ia akan menjagaku sebaik ayah menjagaku?' Tanya putriku. Aku tercengang.

Aku laki2 yg penuh ego, sejenak berpikir. Seketika itu aku bertanya dlm hatiku, bahagiakah istriku hidup dgnku?

Terlintas hari2 sulit dimana pertengkaran2 sebabkan istriku menangis krn kerasnya hatiku. Terlintas, mungkin putri cantikku kan alami itu.

Dan jika pria yg akan dinikahinya itu menyebabkan sulit hidup putri cantikku.. Jangan! Jangan sampai pria itu menyakiti ia yg kusayangi.

'Ayah.., jawablah ayah. Apakah ia akan menjagaku sebaik ayah menjagaku?' Tanya putriku memohon aku menjawab.

Tapi banyak juga masa2 indah kulalui dgn istriku. Sampai pd hari ini, aku mensyukuri hidupku yg telah memberikan pasangan yg sabar & setia.

Sungguh tidaklah mudah. Tetapi jika sepasang kekasih itu mau belajar &  saling membahagiakan, niscaya rumahtangga itu kan semakin kokoh.

'Ayah tdk tahu jawabannya, sayang. Tapi kau berhati lembut & tegar seperti ibumu.' Jawabku sambil menurunkan slayer penutup mukanya.

'Kalian dapat saling menjaga jika mau mengalah.' Lanjutku.. 'Doakan aku, ayah.' Kata putriku dari balik slayernya. Ia tampak sangat cantik.

Inilah putriku yg akan mengarungi hidup barunya. Putri kecilku yg telah menjadi wanita dewasa..

Saat ia kecil dulu, jk mendengarnya sakit, entah dimana kuberada, aku kan datang ter-gesa2 utk berada di sampingnya sampai turun demamnya.

Jika ia alami kesulitan2, aku ingin selalu berada di sampingnya tanpa nasihat. Kami ber-nyanyi2 sambil membicarakan bintang2 di langit.

Akan mampukah pria pilihannya mendampingi putriku seperti aku selalu berusaha ada untuknya? Hatiku gelisah bukan kepalang.

Sesak rasanya dada ini. Jgn ada yg sakiti putri cantikku.. Terdengar janji pernikahan diucapkan. "Oh TUHAN, berikan putriku hidup yg baik."



Follow Twitter: @Yacinta_Senduk
Add BB Pin Yemayo-AEC: 2736346A
Fanpage Facebook: http://www.facebook.com/pages/Yacinta-Senduk/124113834349748
Tulisan keluarga: www.yacintasenduk.blogspot.com

What's App: 0812.1355.1870

Dengan semua usaha dan perjuangan staff Yemayo AEC secara nyata dan sangat jauh dari bilangan mudah, kami boleh berbangga mengatakan bahwa kami memang berbeda karena kami berkualitas!

Nomor Telephone pusat Yemayo AEC sekarang adalah: 0851.086.50001
What's App: 0812.1355.1870
Pin BB: 2736346A
Line: yemayo_aec_jakarta (BUKAN yemayo_aec)