Tuesday, March 20, 2012

Konsistensi Melatih

     “Coach, selamat pagi! Maaf, ya, coach, saya terlambat lagi”, demikian kata Dannny setelah masuk ke kelas.  Saya yang sedang mengajar, kaget dengan kehadiran  Danny yang kalau dihitung sudah terlambat 30 menit.

     “Hmmm,... Danny, kalau coach boleh tanya, kenapa Danny belakangan ini sering sekali terlambat?”,  tanya saya menahan langkah Danny untuk duduk.
     ‘Maaf, coach, tadi supir saya terlambat, padahal saya sudah siap dari pukul 08.00,’ kata Danny membela diri.
     “Sabtu minggu lalu kenapa terlambat juga?”  Tanya saya kembali.  “Sama coach, supirnya terlambat juga”, kata Danny dengan entengnya.
     “Oh, OK, Danny, bagaimana hari Sabtu depan, apakah masih akan terlambat lagi? Kita perlu buat kesepakatan untuk hal ini, Danny.” Kata saya dengan suara tegas.
     “OK, coach, tapi saya mau beritahu teman-teman dulu ini bahwa ada bermacam-macam lomba di sekolah saya, mereka harus ikut !” Kata Danny sambil memperlihatkan selembar brosur di depan kelas untuk teman-temannya .
     “Ada lomba, Danny?” Tegur saya melihat sikap Danny yang tidak mengacuhkan perihal apa yang sedang sementara saya bicarakan dengannya itu.
      “Sebentar coach, saya sedang memberitahu teman-teman.” Kata Danny tanpa melihat ke saya dan terus berbicara di depan kelas.
     “Danny, kita masih sedang bicara.” Kata saya sambil mendekatinya dan saya memintanya duduk.       
     “Tunggu coach, saya mau ...,’
     “Tidak Danny! Danny sudah terlambat, dan pembicaraan Danny dan coach belum selesai, pantaskah  Danny bersikap demikian?” Tanya saya tegas.
     “Apakah Danny sudah minta ijin ke coach untuk memberi pengumuman?” Tanya saya kembali.    
     “Maaf sekali ya, coach.” Jawabnya. Walau ia meminta maaf namun tampak ia kurang memahami serangkaian peristiwa yang baru terjadi tersebut, ia terlihat sangat antusias ingin mengajak teman-temannya mengikuti lomba tanpa menghiraukan pembahasan tentang keterlambatannya yang sedang dipermasalahkan oleh saya sebagai coach-nya.

     Danny adalah salah satu murid yang berusia  15 tahun yang berperilaku kurang sopan dan memiliki sikap yang keras namun sebenarnya ia seorang anak yang cerdas. Sikap seperti inilah yang sering membuat beberapa teman-teman sekelas Danny kurang menyukainya walaupun tidak secara langsung mereka ungkapkan di depan Danny tapi sikap mereka bisa terlihat kalau mereka tidak suka berteman dengan Danny. Setiap kali berlatih, selalu saja ada ulahnya yang membuat teman-temannya enggan mendekatinya.  Belum lagi, Danny senang sekali menggurui teman-temannya yang terlihat melakukan kesalahan. Jika coach menegur temannya yang salah, Danny ikut-ikutan dan kadang juga menggunakan kata-kata yang kasar.

     Beberapa kali saya berusaha berbicara berdua dengan Danny ataupun saya tegur langsung di hadapan teman-temannya jika Danny mulai berulah namun Danny tidak mau mendengar apa yang saya sampaikan .

     Suatu kali saat Danny mulai menggurui temannya, saya langsung bertanya, Danny, sudah berapa kali coach menegur Danny tentang hal ini?” Apakah coach meminta Danny untuk menegur teman-teman di kelas?” Tanya saya dengan tegas.  Awalnya Danny sempat terdiam mendengar pertanyaan saya, tapi kemudian wajahnya agak cemberut dan diam. Saya tidak mau berhenti  sampai disitu saja, saya berjalan menuju tempat duduk Danny dan saya mulai berbicara kembali.
     “Danny, apakah tadi temannya berbuat salah kepada Danny?
     “Tidak coach!”Jawab Danny dengan suara  pelan.
     “Apakah teman Danny memarahi Danny?
     “Tidak, coach!” Jawab Danny sambil menunduk.
     “Bagaimana perasaan Danny jika temanmu memarahimu padahal Danny tidak melakukan kesalahan kepada temanmu itu?” Tanya saya masih dengan nada suara yang tegas.  Danny terlihat diam saja namun saya masih tetap berdiri di hadapannya dan sabar menunggu jawaban Danny atas pertanyaan saya tadi.
     “Jadi, apakah jawabanmu, Danny?”  Tanya saya kembali.
     “Maaf, coach, saya salah, tindakan saya tidak benar, saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan saya itu.” Kata Danny dengan suara pelan, tapi kali ini tersirat nada penyesalan didalamnya.
     “Maaf ya teman-teman kalau selama ini saya membuat teman-teman kesal. Saya janji akan bersikap lebih baik lagi.” Kata Danny. Kali ini Danny membuat saya terkejut, sudah berkali-kali hal seperti ini saya tegurkan padanya, tetapi tampak teguran-teguran saya berlalu begitu saja. Namun hari ini, saya terkejut bahwa ia menyadari perilakunya yang tidak baik itu dan langsung meminta maaf pada teman-temannya. Hari-hari berikutnya, Danny memang benar-benar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

     Inilah salah satu esensi “coaching” (melatih), seorang pelatih tak boleh segan untuk mengingatkan dan mengkomunikasikan hal-hal baik yang seharusnya diingat oleh seorang anak (pribadi). Teguran itu sangat perlu tetapi harus dibawakan dalam pembicaraan sebab akibat yang membuat anak berpikir bukan suatu nasihat panjang-lebar yang membuat anak malas mendengarkan. Ketika satu atau dua kali anak belum mendengarkan, coach tak boleh pernah jenuh untuk memberi teguran tanya-jawab itu untuk yang kesekian kalinya. Memang ada pribadi yang bisa diberi satu kali teguran, namun ada juga pribadi-pribadi yang harus diberikan teguran berkali-kali. Untuk pribadi yang perlu diberikan teguran berkali-kali, seorang coach tidak boleh memercayai bahwa pribadi itu ‘jahat’ atau ‘tidak bisa berubah’ lagi. Terkadang, ada hal-hal dimana kita perlu sabar ‘menunggu waktu’ agar anak bisa merasakan pengalamannya, memikirkannya, menyimpulkannya… Yang tetap perlu kita lakukan sebagai pelatih hanyalah tetap konsisten memberikan pelatihan dan tidak terpancing secara emosi jika hasil saat itu belum sesuai seperti yang diharapkan.

-Angel Siahaya SH

1 comment:

What's App: 0812.1355.1870

Dengan semua usaha dan perjuangan staff Yemayo AEC secara nyata dan sangat jauh dari bilangan mudah, kami boleh berbangga mengatakan bahwa kami memang berbeda karena kami berkualitas!

Nomor Telephone pusat Yemayo AEC sekarang adalah: 0851.086.50001
What's App: 0812.1355.1870
Pin BB: 2736346A
Line: yemayo_aec_jakarta (BUKAN yemayo_aec)